[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Perlunya Skrining Kanker Paru, Terutama yang Berisiko Tinggi

Read Time:1 Minute, 39 Second

warriorweeknow, Jakarta Kanker paru-paru merupakan penyebab utama kematian akibat kanker di dunia. Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) menyebutkan bahwa terdapat sekitar 1,8 juta kematian akibat kanker paru setiap tahunnya di dunia. Diantaranya, sejumlah tokoh ternama di Indonesia juga meninggal karena kanker paru-paru.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, sekitar 85% kanker paru-paru berhubungan dengan kebiasaan merokok. Secara umum, ada dua jenis kanker paru-paru: “karsinoma non-sel kecil – NSCLC”) dan kanker paru-paru sel kecil (“karsinoma sel kecil SCLC”).

NSCLC lebih umum terjadi dan tumbuh relatif lambat, sedangkan SCLC lebih jarang terjadi tetapi tumbuh lebih cepat.

Kanker paru seringkali terlambat terdeteksi, ketika penyakit sudah berada pada stadium lanjut, sehingga pilihan pengobatan sangat terbatas. Oleh karena itu, skrining kanker paru-paru sangatlah penting, terutama pada individu yang berisiko tinggi.

Skrining akan memungkinkan deteksi dini dan secara signifikan meningkatkan hasil pengobatan.

Pada hari Minggu tanggal 25 Februari 2024 di lokasi Hari Bebas Kendaraan Bermotor akan dilakukan tes kanker paru-paru seperti yang saya lewati dengan sepeda pagi ini di foto ini.

Informasi lebih rinci tentang kanker paru-paru biasanya diberikan. Gejala yang sering dialami pasien adalah batuk terus-menerus, nyeri dada, sesak napas, lemas, batuk darah, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, dan kemungkinan infeksi paru berulang.

Pencegahan terbaik adalah berhenti merokok. Selain itu, hindari paparan asap rokok, polusi udara, dan kontaminan di tempat kerja seperti bahan kimia dan asbes.

Mendiagnosis kanker paru-paru meliputi pemeriksaan fisik, pencitraan (seperti rontgen, CT scan, dan pencitraan resonansi magnetik), pemeriksaan saluran napas paru-paru dengan bronkoskop, dan pengambilan sepotong kecil jaringan paru-paru (biopsi dan pengujian molekuler). genetika mutasi atau biomarker untuk memandu pilihan pengobatan terbaik. Perawatan pada dasarnya bergantung pada jenis kanker, seberapa jauh penyebarannya, dan riwayat kesehatan pasien.

Pilihan pengobatan termasuk pembedahan, terapi radiasi, kemoterapi, terapi bertarget, dan imunoterapi. Perawatan suportif juga diperlukan untuk mengatasi gejala, mengatasi rasa sakit, dan memberikan dukungan emosional.

*Penulis adalah Direktur Studi Pascasarjana Universitas YARSI/Profesor FKUI/Mantan Direktur Penyakit Menular WHO untuk Asia Tenggara

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Jadwal Penerbangan ke Luar Angkasa di 2024
Next post Juventus Dianggap Bermain Negatif Saat Taklukkan Fiorentina, Ini Kata Allegri