0 0
Indosat Ajak Generasi Muda Jaga Lingkungan Lewat Film Fiksi Ilmiah Berkonsep Multiverse - PORTAL BERITA

Indosat Ajak Generasi Muda Jaga Lingkungan Lewat Film Fiksi Ilmiah Berkonsep Multiverse

Read Time:2 Minute, 59 Second

warriorweeknow, Jakarta Indosat Ooredoo Hutchison mendorong generasi baru untuk menyelamatkan lingkungan dengan film berjudul ‘Jaga Raia’. Film pendek ini bercerita tentang seorang ahli biologi bernama Raja yang prihatin terhadap polusi yang mencemari bumi.

Secara khusus, film ini berfokus pada dunia Raja yang beragam, dimana di berbagai negara lainnya, Raja menjadi korban degradasi lingkungan.

Namun kegigihannya melakukan penelitian benih mangrove membuahkan hasil. Selain itu, kekasih Raja, Yaga, mampu membawa benih ke masa kini untuk mencegah memburuknya bencana alam yang terjadi di dunia bersama mereka.

Indosat Ooredoo Hutchison mengelola yayasan ini dalam film tersebut, sebagai salah satu komitmen lingkungannya.

SVP, Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison Steve Saerang mengatakan peluncuran film pendek fiksi ilmiah ini merupakan bagian dari kampanye “Plant Okigen” Indosat.

Penanaman Okigen yang ditayangkan di YouTube Indosat merupakan wujud tanggung jawab kami terhadap lingkungan yang berkelanjutan, kata Steve seperti dikutip dalam keterangannya.

Selain itu, film fiksi ilmiah ini juga merupakan bentuk edukasi kepada masyarakat Indonesia untuk lebih memahami pentingnya peran mangrove sebagai biofilter polusi dan penghasil oksigen.

Steve mengatakan melalui film ini, kelompoknya berharap dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat dengan berkontribusi terhadap udara bersih.

Sekadar informasi, data saat ini menyebutkan 99 persen orang di dunia menghirup udara yang sangat tercemar. Selain itu, data WHO menunjukkan emisi karbon dioksida akan mencapai level tertinggi pada tahun 2022.

Jarangnya ketersediaan udara bersih membuat Indosat meminta masyarakat berkontribusi dalam mengambil langkah nyata dalam proses penanaman oksigen. Masyarakat bisa berpartisipasi langsung dengan membeli bibit mangrove seharga Rp 80 ribu per pohon.

Selain membantu mengurangi polusi udara, mangrove juga memiliki manfaat bagi lingkungan seperti mencegah erosi, mengurangi dampak tsunami dan menjadikannya sebagai tujuan wisata.

Kepedulian Indosat terhadap mangrove tidak hanya terbatas pada film ini. Sebelumnya, Indosat Ooredo Hutchison (Indosat) berkolaborasi dengan Global Mobile Communications Association (GSMA) dalam upaya meningkatkan kelestarian lingkungan dan ekonomi Indonesia dengan menerapkan mitigasi berbasis sel.

Kolaborasi ini merupakan salah satu program penanganan dampak perubahan iklim global yang dituangkan dalam Digitalisasi Konservasi Mangrove Kalimantan Utara.

“Kolaborasi Indosat dengan GSMA merupakan langkah tepat dalam mengatasi isu perubahan iklim melalui teknologi digital,” kata Chairman, Director dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, Senin (22/05/2023) di Tarakan.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh CEO Global System Mobile Communications Association Asia Pacific (GSMA), Julian Gorman, yang mengatakan bahwa GSMA telah memperkuat komitmennya dalam mengatasi tantangan iklim di seluruh dunia dengan mendukung program digitalisasi untuk mengatasi dampak negatif cuaca ekstrem. kondisi cuaca.

Kolaborasi keduanya diwujudkan melalui kehadiran Indosat dan GSMA Mobile Innovation Hub.

Rencana digitalisasi konservasi mangrove ini merupakan kelanjutan dari penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di Barcelona pada Maret 2023 yang dilaksanakan melalui dua cara.

Yang pertama adalah pemetaan wilayah laut dan pesisir menggunakan open source dan pemetaan geospasial di wilayah pesisir dan laut Kalimantan Utara, khususnya di Desa Setabu, Kecamatan Sebatik Barat. Proyek ini akan melibatkan warga lokal dan tokoh masyarakat menggunakan sistem Kfiled yang dapat diperbarui secara berkala.

Selain penerapan Kfield, Indosat dan GSMA, BMZ dan GIZ juga memberikan pelatihan pemetaan untuk pemetaan wilayah pesisir dan pesisir, serta pembuatan peta digital untuk tugas-tugas berikut.

Keberhasilan proyek ini dapat digunakan untuk menyebarkan pengetahuan kepada pelaku usaha lain dan melindungi hutan bakau dalam jangka panjang.

 

Proyek lainnya adalah memperkenalkan solusi digital berbasis Internet of Things (IoT) kepada petambak udang lokal untuk memantau ketinggian air tambak, terutama di dekat perkebunan bakau.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas tambak kecil dan mencegah terancamnya mangrove akibat penebangan di tambak besar.

Program berkelanjutan ini juga didukung oleh Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ) dan Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ), Universitas Kalimantan Tarakan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, dan Pemerintah Daerah Sebatik Barat.

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %