Hasil Studi: Kecemasan dan Depresi Meningkat Tajam Setelah Pemilu 2024, Ini Sebabnya

Read Time:1 Minute, 37 Second

warriorweeknow, Jakarta – Studi tentang kesehatan mental dan pemilu yang dilakukan oleh Kaukus Kepedulian Kesehatan Mental mengungkapkan, rata-rata tingkat kecemasan meningkat menjadi 16 persen dan depresi menjadi 17,1 persen pada akhir pemilu 2024. Dr Ray Wagiu Basrovi MKK FRSPH, ketua tim peneliti dan Cox Initiative, mengatakan hasil ini menunjukkan tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan data Riskdass 2018 dan data Departemen Perorangan Kementerian Kesehatan tahun 2022.

Menurut Roy, data pra pemilu menunjukkan depresi sedang hingga berat sebesar 6 persen dan depresi sedang hingga berat sebesar 9,8 persen setelah pemungutan suara pada 14-16 Februari 2024. “Bahaya juga dikaitkan dengan persepsi kesehatan mental yang terkait dengan proses pemilu.”

Menyajikan hasil penelitiannya, tim peneliti Cox yang terdiri dari Dr Ray Wagyu Busarovi, Prof Dr Nila F. Moylock, Prof Dr Tijin Viguna dan Christian Sama menjelaskan secara metodologis bahwa penelitian tersebut memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dan ada adalah margin kesalahan. Dua persen. Ia akan handal dalam menunjukkan keadaan masyarakat Indonesia.

1.077 responden menemukan bahwa partisipasi dalam pemilu 2024 meningkatkan risiko kecemasan dan depresi tiga kali lipat.

 

Pada saat yang sama, Profesor Inovasi Cox Neela F. Mulwick mengatakan diperlukan tindakan dan mitigasi khusus untuk mencegah berlanjutnya konsekuensi, kecemasan, dan depresi ini. “Kecemasan dan depresi merupakan pintu masuk gangguan jiwa yang serius bahkan dapat berujung pada kematian sehingga harus dihindari,” kata Menteri Kesehatan RI periode 2014-2019.

Dewan Komunitas Kesehatan Cerdas menyarankan pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan suasana publik yang positif setelah pemilu, menghindari perdebatan politik yang panjang. Hal ini juga memperkuat akses terhadap layanan kesehatan mental dan layanan primer di tingkat masyarakat, termasuk konseling di pusat kesehatan masyarakat.

Penelitian ini menggunakan metode observasional kuantitatif dengan desain cross-sectional untuk mengukur status kesehatan mental dan persepsi pilihan melalui kuesioner online dengan instrumen GAD-7 dan PHQ-9. Keduanya mengatakan hasil penelitian menunjukkan pemilu 2024 terkait dengan konflik internal dan eksternal serta tekanan untuk memilih yang dapat berujung pada depresi dan kecemasan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Alasan Tersembunyi Gareth Southgate Jadi Favorit Gantikan Erik ten Hag di Manchester United Terungkap
Next post Ini Jawaban Ilmiah Nyamuk Suka Menghisap Darah