Aturan Perlindungan Anak dari Game Online Segera Rampung

Read Time:1 Minute, 37 Second

warriorweeknow, JAKARTA — Pemerintah akan segera merampungkan keputusan presiden (perpres) tentang perlindungan anak dari game online. Hal ini sebagai respons terhadap meningkatnya aktivitas kriminal seperti kekerasan, pornografi, pelecehan seksual, dan kekerasan terhadap anak akibat pengaruh game online.

“Ada kemajuan dalam koordinasi kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah, sehingga tugas, tugas, dan wewenangnya tidak saling bersinggungan. Insya Allah diharapkan selesai tahun ini,” kata Deputi Perlindungan Khusus. anak-anak di Kementerian Pemberdayaan Perempuan. dan perlindungan anak Makan siang saat dihubungi di Jakarta, Rabu (17/04/2024).

Nahar menjelaskan, permainan yang mengandung kekerasan berdampak sangat buruk terhadap perkembangan mental dan perilaku anak dan remaja. Menurutnya, pemerintah akan terus memantau konten online atau game kekerasan, termasuk kemungkinan pemblokiran game seperti Free Fire.

“Dampaknya banyak dan sangat kompleks. Resiko yang ditimbulkan antara lain konten, perilaku, kontak fisik, perilaku konsumen. Konten tersebut tidak sesuai dengan peringkat usia anak-anak. Harus lebih ketat dan terkendali, dengan mempertimbangkan risiko berkembangnya perilaku. Bisa saja terjadi, berbahaya dan berdampak pada anak-anak,” kata Nahar.

Psikolog Steni Pravitasari menilai permainan seperti itu berisiko berdampak pada kesehatan mental dan emosional anak. “Game seperti Free Fire mengandung adegan kekerasan yang intens, termasuk perkelahian dan penggunaan senjata. “Memainkan permainan semacam ini secara berulang-ulang dapat membuat anak-anak tidak peka terhadap konsekuensi nyata dari tindakan kekerasan,” katanya.

Ia menjelaskan, beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara bermain game dan peningkatan agresi pada anak. Dalam lingkungan yang kompetitif, seperti permainan kerajaan, anak-anak lebih cenderung terlibat dalam perilaku agresif, seperti menggunakan kata-kata kasar atau mengungkapkan kemarahan ketika mereka kalah dalam permainan.

Permainan-permainan tersebut juga dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan keterampilan sosial dan kemampuan komunikasi anak. Stenny mengatakan pemerintah harus lebih memperhatikan dampak game online terhadap anak.

Hal ini memerlukan upaya penguatan regulasi dan aturan yang mengatur penggunaan game online, khususnya bagi anak-anak. “Pembatasan akses dan kontrol konten terhadap game yang mengandung kekerasan dan tidak sesuai dengan usia anak harus diperkuat untuk melindungi generasi mendatang dari kemungkinan dampak negatif,” ujarnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Mengapa Anak Perlu Suplemen Nutrisi? Ini Alasannya
Next post Sistem Pemerintahan Presidensial: Asal-Usul, Unsur, Ciri dan Kelebihannya